Share
kiri - Kanan: Muhtasit (Kasi Pontren), Solihin (Kabid PD Pontren), Abd. Rouf (Kasubag TU PD Pontren), Imam Safe'I (Plt. Direktur PD Pontren)

kiri – Kanan: Solihin (Kabid PD Pontren), Muhtasit (Kasi Pontren), Abd. Rouf (Kasubag TU PD Pontren), Imam Safe’I (Plt. Direktur PD Pontren)

PD-PONTREN-JAKARTA. Bulan September 2017, Kementerian Agama RI melalui Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Ditjen Pendidikan Islam akan menyelenggarakan event nasional yaitu Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK) Nasional VI.

Kegiatan Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK) Nasional Tahun 2017 ini merupakan kelanjutan dari kegiatan yang pernah dilakukan sebelumnya. Pertama kali MQKN dilakukan di PP. Al-Falah Bandung Jawa Barat pada tahun 2004, di PP. Lirboyo Kediri Jawa Timur pada tahun 2006, dan ketiga di PP. Al-Falah Banjar Baru Kalimantan Selatan tahun 2008. Tahun 2011 dilaksanakan di PP. Darunnahdlatain Nahdlatul Wathan, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB).  Selanjutnya, Tahun 2014 dilaksanakan di PP. As’ad Jambi, dan Tahun 2017 ini dilaksanakan di PP. Raudlatul Mubtadiin Balekambang Jepara Jawa Tengah.

Kepastian PP. Raudlatul Mubtadiin Balekambang Jepara Jawa Tengah menjadi tuan rumah MQK Nasional VI tersebut, disampaikan oleh Solihin, selaku Kepala Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah ketika silaturahim dengan Plt. Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Imam Safe’I, di ruang Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Lt. 8 Jl. Lapangan Banteng Barat 3-4 Jakarta, Rabu (08/03) sore.

“Enam bulan lagi, kita  menyaksikan 10.000 santri akan mendendangkan bait bait Alfiyah di arena Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK) Nasional VI di PP. Raudlatul Mubtadiin Balekambang dan akan kita catatkan sebagai rekor di MURI,” lanjut Solihin dalam wawancara singkat di ruang Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren.

Bait bait Alfiyah yang berjumlah 1002 bait adalah ilmu gramatika Arab yang sudah tak asing lagi dalam literatur pesantren di Indonesia. Bahkan hampir seluruh pesantren menyertakan Alfiyah sebagai salah satu pelajaran wajib dan menjadi tolak ukur sejauh mana kepandaian seorang santri dalam ilmu gramatika Arab.

Imam Safe’I mengatakan, “Bahwa ada 3 (tiga) elemen dasar yang harus diraih dalam pelaksanaan MQKN VI ini. Pertama, mendorong dan meningkatkan kecintaan para santri kepada kitab-kitab rujukan berbahasa Arab (kutub at-turats), serta meningkatkan kemampuan santri dalam melakukan kajian dan pendalaman ilmu-ilmu agama Islam dari sumber kitab-kitab berbahasa Arab. Kedua, menjalin silaturahim antar pondok pesantren seluruh propinsi di Indonesia, dalam rangka terwujudnya persatuan dan kesatuan nasional; dan ketiga, meningkatkan peran pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam dalam mencetak kader ulama dan tokoh masyarakat di masa depan.”

“Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren akan berupaya terus meningkatkan kegiatan MQK ini, karena dirasakan memiliki dampak yang sangat positif dalam peningkatan pengembangan ilmu-ilmu agama (tafaqquh fiddiin) yang merupakan kajian pokok bagi setiap lembaga pondok pesantren,” tutup Imam Safe’i. (elmuniry).

 

Related posts:


Category: Berita