Ilustrasi APBN 1

Ilustrasi APBN

Ditpdpontren, Tangerang – Menjelang semester dua, Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (Ditpdpontren) dihadapkan pada efisiensi anggaran 2016. Efisiensi ini merupakan yang kedua kalinya pada tahun yang sama. Adanya efisiensi anggaran tidak terlepas dari defisit anggaran pemerintah, dalam hal ini pendapatan hasil pajak negara yang tidak mencapai target.

 “Adanya pemotongan anggaran pada tahun ini dikarenakan perolehan pajak negara yang tidak maksimal”. Seperti disampaikan oleh Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam Isom Yusqi, Tangerang (26/5).

 Nampaknya pemerintah belum dapat mewujudkan target postur APBN sebesar tiga ribu trilyun yang diperuntukkan bagi percepatan dan peningkatan pemerataan pembangunan. Karena dari target postur APBN sebesar tiga ribu trilyun itu akan difokuskan pada pembangunan infrastruktur sebesar seribut trilyun, dan sisanya digunakan untuk sektor pendidikan, kesehatan, pemberdayaan masyarakat, sosial budaya, dan lain sebagainya, Isom menjelaskan.

 Terkait intruksi efisiensi anggaran pada Ditjen Pendis, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Mohsen menginstruksikan kepada para Kasubdit dan Kasubbag TU untuk mereview dengan cermat program dan kegiatan yang tepat untuk dilakukan efisiensi.

 “Untuk memenuhi pemotongan anggaran ini, maka harus dipilih program yang tepat kiranya untuk dilakukan pemotongan dan tidak berdampak buruk pada dukungan pelaksanaan program pada tahun berjalan”. Demikian Mohsen mengutarakan pada pembukaan acara Workshop Penyusunan Program Ditpdpontren di Hotel Atria Tangerang 26-28 Mei 2016.

 Selain itu, Mohsen juga mengingatkan kepada para peserta workshop yang merupakan Kasi Sistem Informasi dan Perencanaan pada Kanwil Kemenag Propinsi untuk bersinergi dengan Ditpdpontren dalam penyusunan anggaran 2017.

 Saat ini, paradigma yang digunakan dalam penyusunan program berupa anggaran mengikuti program prioritas, salah satunya seperti PBSB, Pendidikan Kader Ulama, Pendidikan Ma’had Aly, Beasiswa bagi Tahfiz Al-Qur’an, Program Pengembangan Pesantren pada wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) serta Rintisan Pesantren Agribisnis dan Maritim. Mohsen menuturkan.

 Terkait penyusunan program, Mohsen juga menegaskan bahwa dalam menyusun program perlu didasarkan pada pengoptimalan sistem informasi dan data faktual dari EMIS Ditjen Pendis untuk kemudian menentukan program reguler, program prioritas dan program inovatif supaya bisa menciptakan formula anggaran yang ideal. Demikian diakhirinya. (hi/ar/ah)

Related posts:


Category: Berita