obserbatorium

Foto Dome Astronomi Assalam (Dokumentasi CASA pada blogcasa.wordpress.com)

Ditpdpontren, Solo – Saat ini ilmu falak menempati posisi yang amat penting dalam kajian keislaman. Urgensi ilmu ini sangat terkait erat dengan urusan ibadah kaum muslim. Dalam kajian keislaman, ilmu falak mempelajari empat bidang, yakni penentuan arah kiblat, waktu sholat, awal bulan Hijriyah, serta gerhana matahari dan bulan. Meskipun ilmu falak sama umumnya dengan ilmu astronomi yang tidak hanya terkait dengan perspektif keperluan praktis ibadah saja, melainkan juga merambah pada perkembangan pondasi dasar ilmu lainnya, semisal pertanian, pelayaran, militer dan lainnya.

“Membumikan ilmu falak di Indonesia, tema yang luar biasa. Dikarenakan ilmu falak adalah ilmu yang berhubungan dengan luar angkasa, semua objeknya tidak ada yang bisa disentuh, namun kita membumikannya. Ini luar biasa sekali”, ujar pakar fisika sekaligus penanggungjawab kegiatan falakiyah Assalam, Sugeng Riyadi pada Workshop Pimpinan Lembaga Pendidikan Keagamaan, Solo, Senin (06/07)

Acara puncak ceramah ilmiah Membumikan Ilmu Falak di Indonesia oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin ini dilaksanakan di Pondok Pesantren Modern Islam Assalam Solo. Pesantren yang berada di kampung halaman Presiden Jokowi ini telah mengembangkan konsentrasi kajiannya pada bidang ilmu falak sejak sepuluh tahun lalu. CASA (Club Astronomi Santri Assalam) merupakan komunitas santri pesantren Assalam penggiat astronomi.

Pesantren asuhan Uripto Mahmud Yunus dengan konsentrasi ilmu falaknya ini termotivasi dari keresahan penetapan awal Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha yang kerap menimbulkan perbedaan. CASA menyadari bahwa perkembangan tekhnologi sebetulnya mampu menghindari perbedaan tersebut. Perpaduan ilmu falak yang diakui merupakan ilmu yang sangat tua namun dapat disandingkan dengan tekhnologi yang semakin modern. Inilah harapan sejuk kalangan santri CASA yang mendambakan adanya kesamaan dalam penetapan kalender Hijriyah.

Seiring perkembangannya, CASA kerap menjalin kerjasama dengan berbagai badan astronomi. Semisal dengan Observatorium Bosscha di Bandung. Tak hanya dengan badan astronomi dalam negeri saja, dengan jaringan internasional pun telah dirajutnya, Astronomers Without Borders, Astronomy Clubs, Moonsighting Committee Worldwide. Bahkan CASA telah mendapatkan sertifikat dari National Aeronautics and Space Administration (NASA) pada tahun 2012 karena berhasil mengamati planet Venus.

Hasil yang membanggakan ini bukan tanpa kerja keras dan konsentrasi tinggi. Pada tahun 2010, pesantren Assalam telah dilengkapi dengan Dome Astronomi sebagai pusat praktik pengamatan astronomi. Bahkan saat ini sudah tersedia puluhan teleskop yang digunakan untuk praktik dan keperluan rukyat hilal.

Keresahan semacam ini tentunya juga dirasakan oleh masyarakat luas. Tak hanya bagi kalangan santri pondok pesantren namun juga bagi kalangan umum. Meski ilmu falak disadari bukanlah ilmu yang banyak diminati, namun Pesantren Assalam meyakini mampu membangkitkan gairah falakiyah di bumi nusantara ini, demikian komitmen pengurus Pesantren Assalam.

“Mulai tahun 2015, kalender Islam di Indonesia akan serentak sama antara pemerintah dengan ormas Islam. Agenda besarnya adalah Indonesia diharapkan menjadi pionir untuk kalender Islam di dunia,” tegas Sugeng. (hery)

Related posts:


Category: Berita