Menanti Lailatul Qadar

Menanti Lailatul Qadar Oleh : Fathuri SR*

Fathuri SR

Sebuah pemandangan yang jamak kita saksikan saat Ramadhan adalah spanduk ucapan selamat terpasang di mana-mana. “Selamat Menjalankan Ibadah Puasa,” itulah kalimatnya hingga kita hapal di luar kepala. Sebelum Ramadhan tiba, Sms ucapan selamat berpuasa juga diterima lebih dari sekali, ada dari teman, saudara, dan keluarga. Tak ketinggalan media cetak, online, radio, maupun televisi juga memuat ucapan selamat itu. Acara dan rubrik khusus puasa digelar, memanjakan pembaca dan pemirsa saat berpuasa.
Dari ucapan selamat saja, kita bisa menghitung berapa biaya yang keluar: pulsa, spanduk, iklan di koran, dan ucapan lewat media-media lain. Itu baru ucapan selamat. Belum acara dan seremoni yang digelar, pembelian makanan, belanja pakaian, dan pernak-pernik lain yang biasa hadir di bulan puasa. Kita bisa bayangkan, biaya yang keluar. Hanya ada satu kesimpulan: puasa Ramadhan adalah saat pemborosan besar-besaran umat Islam, baik yang mampu maupun tidak mampu sekalipun.Jika faktanya demikian, hajatan puasa sejatinya jauh dari makna sesungguhnya puasa itu sendiri. Puasa oleh Allah swt jelas-jelas adalah ibadah yang sangat individual. Jalurnya langsung antara hamba dan Tuhannya, lurus tanpa penghalang dan perantara. Dalam hadis Qudsi Allah menegaskan, “Puasa itu untukku, dan Akulah yang akan membalasnya.”Karena itu sebenarnya puasa jauh dari hingar bingar. Tak perlu dipublikasi, apalagi dirayakan dengan gegap gempita yang lebih tampak foya-foya dan berlebih-lebihannya dibanding mawas diri, menahan diri yang menjadi makna terdalam dari puasa.Salah satu tokoh utama penyebar Islam di Indonesia, Sunan Kalijaga, secara simbolis mengajarkan betapa pribadinya sifat dari puasa melalui baju takwa ciptaannya yang disebut Surjan, yang berarti pepadhang atau pelita. Di baju ini terdapat 11 kancing baju: 6 kancing di leher yang menunjukkan 6 rukun iman, dua kancing di atas dada sebelah kanan dan kiri,  menunjukkan 2 rukun Islam, yaitu zakat dan haji, dan 3 kancing lainnya tersembunyi di dalam lipatan baju tersebut, yang mewakili 3 rukun Islam lainnya: syahadat, shalat, dan puasa.

Ketiga kewajiban umat Islam yang pertama: syahadat, shalat, dan puasa oleh Sunan Kalijaga diletakkan di dalam lipatan baju. Tentu ini bukan tanpa maksud. Karena memang kesungguhan syahadat, kekhusyukan shalat, dan kesejatian puasa hanya si pelaku dan Allah yang tahu. Berbeda halnya dengan zakat yang terang-terangan seorang Muslim harus menyerahkan sejumlah hartanya dengan jumlah tertentu, atau orang yang berhaji, yang datang dan beribadah di Tanah Suci. Secara empiris dan sosial, dua ibadah yang terakhir sangat terasa dan memang orang lain akan mudah mengecek kebenarannya.

Berbeda dengan puasa. Siapa yang bisa membuktikan bahwa si A telah benar-benar puasa. Siapa yang mau sukarela dari saat imsak hingga buka puasa menjaga tanpa jeda memperhatikan orang lain, apakah benar ia puasa. Tentu itu sesuatu yang teramat sulit. Inilah puasa yang merupakan ibadah rahasia antara Allah dan manusia.

Lailatul qadar Sebagai Puncak Bulan Ramadhan

Seperti halnya puasa, Lailatul Qadar atau Malam Qadar itu juga sesuatu yang sangat misterius, bahkan bisa jadi lebih rahasia dibanding puasa itu sendiri. Benar bahwa ada hadist yang menyatakan bahwa Lailatul Qadar hadir pada sepuluh hari terakhir. Benar bahwa ada hadist yang menyatakan bahwa Lailatul Qadar hadir pada malam-malam tanggal ganjil. Tetapi juga ada keterangan yang menyampaikan bahwa Lailatul Qadar bisa saja datang pada awal Ramadhan atau pertengahan Ramadhan. Ada juga yang mengatakan bahwa Lailatul Qadar muncul pada tanggal-tanggal genap.

Tetapi sebelum kita menelisik lebih jauh mengenai perdebatan ini, lebih dulu penulis akan mengurai makna Lailatul Qadar itu sendiri. Menurut Quraish Shihab (Wawasan Al-Qur’an, hlm. 539), kata Qadar sesuai dengan penggunaannya dalam ayat-ayat Al Qur’an dapat memiliki tiga arti yakni:
1. Penetapan dan pengaturan sehingga Lailat Al-Qadar dipahami sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia. Penggunaan Qadar sebagai ketetapan dapat dijumpai pada surat Ad Dukhan ayat 3-5 : Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Quran) pada suatu malam, dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan semua urusan yang penuh hikmah, yaitu urusan yang besar di sisi Kami
2. Kemuliaan. Malam tersebut adalah malam mulia tiada bandingnya. Ia mulia karena terpilih sebagai malam turunnya Al-Quran. Penggunaan Qadar yang merujuk pada kemuliaan dapat dijumpai pada surat Al-An’am (6): 91 yang berbicara tentang kaum musyrik: Mereka itu tidak memuliakan Allah dengan kemuliaan yang semestinya, tatkala mereka berkata bahwa Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada masyarakat
3. Sempit. Malam tersebut adalah malam yang sempit, karena banyaknya malaikat yang turun ke bumi, seperti yang ditegaskan dalam surat Al-Qadr. Penggunaan Qadar untuk melambangkan kesempitan dapat dijumpai pada surat Ar-Ra’d ayat 26: Allah melapangkan rezeki yang dikehendaki dan mempersempit (bagi yang dikehendaki-Nya)

Dari ketiga pengertian ini menunjukkan bahwa Malam Qadar adalah sebuah malam yang sangat menentukan arah hidup, kemuliaan, dan anugerah bagi yang menemukannya. Siapa yang mendapatkannya bisa dijamin akan berkah sepanjang hidupnya. Apalagi dikatakan bahwa Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan, artinya ia lebih baik dari 83 tahun 4 bulan. Kita bisa membayangkan seseorang yang menemukan malam Lailatul Qadar akan mendapatkan berkah yang luar biasa.

Namun dengan keistimewaan Lailatul Qadar ini, juga sangat istimewa waktunya. Karena tidak seorang pun bahkan Nabi Muhammad saw dapat memastikan kapan malam Qadar itu tiba.

Al Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani di dalam kitab Fath Al-Bari menyatakan bahwa, “Ulama berbeda pendapat tentang Lailatul Qadar dengan perbedaan pendapat yang banyak. Kami mengumpulkan pendapat tersebut sehingga terkumpul lebih dari empat puluh pendapat.” Atau tepatnya empat puluh lima pendapat, dan di sana Ibnu Hajar menyebutkan pendapat-pendapat tersebut dan dalil-dalil dari masing-masing ulama.

Di antara pendapat itu adalah, sumber yang mengatakan bawah terjadinya Lailatul Qadar itu pada 10 malam terakhir bulan Ramadan, hal ini berdasarkan hadits dari Aisyah yang mengatakan : “Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di sepuluh hari terkahir bulan Ramadan dan beliau bersabda, yang artinya: “Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Romadhon” ” (HR: Bukhari 4/225 dan Muslim 1169)

Abdullah bin Mas`ud dan asy-Sya`bi dan al-Hasan dan Qatadah berpendapat bahwa malam itu ialah malam 24 Ramadhan. Alasan mereka ialah karena ada hadist yang menyatakan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada 24 Ramadhan.

Satu riwayat lagi menyatakan jatuhnya ialah pada 17 Ramadhan. Orang yang berpegang pada 17 Ramadhan ini mengambil istimbath dari ayat 41 dari surah an-Anfal karena di sana berbunyi: “… Dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqân, yaitu di hari bertemunya dua pasukan…”Hari bertemunya dua golongan adalah saat perang Badar, pada 17 Ramadhan sedang hari Furqân ialah hari turunnya al-Quran yang pertama yang disebut juga malam yang diberi berkat sebagaimana tersebut di dalam surah ad-Dukhan. Karena itu tanggal 17 Ramadhan dianggap sebagai malam Lailatul Qadar.

Di samping itu masih banyak hadist-hadist yang menyatakan Lailatul Qadar berlaku pada malam yang ganjil sepuluh terakhir dalam bulan Ramadhan (Ruh al-Maani, hlm. 191), dan ada pendapat hadis yang menetapkan pada malam 27.

Inilah berbagai pendapat tentang waktu terjadinya Lailatul Qadar, yang mengarah pada kesimpulan bahwa tidak ada kepastian kapan terjadinya Lailatul Qadar itu. Hanya Allah swt yang tahuwaktunya.

Carilah Lailatul Qadar pada Tiap Malam Ramadhan
Karena itu tidak tepat kiranya jika kebanyakan dari kita yang berlomba-lomba menunggu Lailatul Qadar pada hanya sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, karena bisa jadi ia datang pada tanggal-tanggal awal. Lebih baik pada setiap malam Ramadhan layaknya seorang kekasih, kita menantinya dengan berbuat segala kebaikan. Sebab inilah yang terbaik, jangan sampai anugerah yang Mahabesar dari Allah ini kita lewatkan begitu saja. Hal demikian yang juga dikehendaki oleh Rasulullah, beliau bersabda: “Sesungguhnya aku keluar untuk memberitahu kalian tentang Lailatul Qadar, akan tetapi kemudian fulan dan fulan saling mencela, sehingga ilmu tentang terjadinya Lailatul Qadar diangkat. Dan semoga saja itu menjadi sebuah kebaikan untuk kalian, maka hendaklah kalian cari Lailatul Qadar…” (HR. Bukhari )

Tak heran kalau ulama-ulama kita terdahulu mengajarkan untuk membaca doa Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa, fa’fu’anni (Ya Allah Engkau adalah Maha Pengampun, mencintai orang yang meminta ampun, maka ampunilah aku) dan “Allahumma innâ nas’aluka ridhâka wa al-jannah wa na’udzû bika min sakhathika wa an-nâr (Ya Allah sesungguhnya kami meminta ridha dan surga-Mu dan memohon perlindungan dari siksa dan neraka-Mu). Kedua doa ini adalah doa yang diajarkan oleh Rasulullah untuk menyambut Lailatul Qadar.

Saat sebelum buka puasa dan usai tarawih, di mana-mana doa ini dilantunkan, baik melalui pengeras suara maupun tidak. Tujuan para pendahulu kita melanggengkan doa ini tak lain dan tak bukan agar kita mencari Lailatul Qadar pada setiap malam Ramadhan, agar tak terlewatkan semalam pun selama Ramadhan itu. Bukan hanya di sepuluh hari terakhir, apalagi hanya pada tanggal-tanggal ganjil. Jelas itu sesuatu yang naif atau bahkan tanpa perhitungan. [ ]

* Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Seblak Jombang

Related posts:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *