Website Resmi Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama RI|Wednesday, March 29, 2017
You are here: Home » Wawancara » Ijtihad Tidak Boleh Berhenti

Ijtihad Tidak Boleh Berhenti 

FacebookTwitterGoogle+Share
Krisis keilmuan Islam klasik, terutama ushul fiqh, sudah lama menjadi keprihatinan kalangan kyai dan ulama. Ironisnya, pesantren sebagai basis keilmuan Islam cenderung lebih memprioritaskan pendidikan formal ketimbang pendalaman kitab kuning. Kecenderungan ini kian meresahkan karena makin hari makin banyak ulama yang wafat. Pintu ijtihad kian tertutup rapat. Padahal, ijtihad tidak boleh berhenti. Karena masalah yang dulu belum muncul pada saat para imam madzhab menuliskan karya-karya monumentalnya, kini mulai bermunculan. Untuk menjawab masalah-masalah yang dulu belum ada, ijtihad adalah satu-satunya jalan. Dan untuk melakukan ijtihad, penguasaan terhadap ushul fiqh mutlak diperlukan. Agus Muhammad dariwww.pondokpesantren.net melakukan wawancara dengan KH Afifuddin Muhadjir, Pengasuh Ma’had Aly Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo untuk menggali persoalan tersebut.

KH Afifuddin Muhadjir

Seberapa penting kedudukan Ushul Fiqh dalam sistem hukum Islam?
Ushul fiqh adalah metode dalam proses pengambilan hukum Islam.  Tentu saja ushul fiqh  menempati posisi penting dalam hukum Islam. Itulah sebabnya, para imam madzhab tidak hanya melahirkan produk-produk hukum seperti yang kita baca dalam kitab-kitab fiqh, tetapi juga menulis tentang ushul fiqh sebagai panduan bagi generasi berikutnya dalam menentukan hukum. Sampai sekarang kita bersyukur bahwa kitab-kitab ushul fiqh bisa kita pelajari. Dengan kitab-kitab ushul fiqh kita bisa belajar bagaimana mengambil hukum sebagaimana para imam madzhab melakukannya.

Apakah pengambilan hukum Islam harus selalu menggunakan ushul fiqh?

Ushul fiqh adalah metode ijtihad. Ketika seorang ulama mau mengeluarkan fatwa atau menghukumi sesuatu, maka sesungguhnya dia telah berijtihad. Sebagai metode ijtihad, tentu saja ushul fiqh sangat penting agar orang tidak sembarangan menghukumi sesuatu. Karena itu, ijtihad ini tidak boleh berhenti. Karena zaman selalu berubah. Kalau ijtihad berhenti maka bagaimana kita mau menghukumi sesuatu? Kita tidak mungkin mengandalkan hasil ijtihad para ulama untuk kemudian diterapkan pada masa sekarang. Sebagian mungkin masih bisa diterapkan. Tapi tidak secara keseluruhan. Karena situasi dan kondisi ketika para ulama melakukan ijtihad dan kemudian ditulis dalam kitab-kitab fiqh itu berbeda dengan situasi sekarang. Belum lagi masalah-masalah baru bermunculan, masalah-masalah yang dulu belum muncul.

Mengingat pentingnya kedudukan ushul fiqh, sejauh mana kajian ushul fiqh dilakukan di pesantren sebagai basis keilmuan Islam klasik?

Dari dulu sampai sekarang saya kira pesantren tetap mengkaji ushul fiqh. Banyak kitab-kitab ushul fiqh yang terus dibaca dan dikaji di pesantren. Bahkan pada waktu ramadlan, pesantren-pesantren menyelenggarakan khataman kitab, termasuk kitab-kitab ushul fiqh. Dari segi ini, saya kira ada upaya dari pesantren untuk terus mempelajari dan mengkaji ushul fiqh. Tetapi, sayangnya, upaya untuk mempelajari tidak dilanjutkan dengan upaya untuk menerapkan. Akhirnya ushul fiqh hanya berhenti sebagai ilmu. Padahal, sebagai metode ijtihad, ushul fiqh pada dasarnya adalah ilmu terapan, bukan ilmu murni seperti filsafat. Karena ilmu terapan, maka ushul fiqh mestinya diterapkan, tidak hanya dipelajari dan dikaji.

Tidak berani menerapkan?
Mungkin bukan tidak berani, tetapi lebih tepat ini adalah sikap tawadlu dari para kyai untuk selalu merujuk pada kitab-kitab fiqh, bukan kepada ushul fiqh. Kitab-kitab fiqh kan banyak sekali dan sebagian para kyai menganggap bahwa untuk menjawab masalah-masalah yang muncul belakangan ini cukup mengambil ibarat dari kitab-kitab fiqh yang ditulis oleh para ulama dan para imam madzhab.

Bukankah belakangan ini ada kecenderungan untuk bermadzhab secara manhaji, bukan hanya qawliy?
Iya betul. Tapi sejauh ini bermadzhab secara manhaji baru sebatas sebagai gagasan dan keinginan. Idealnya memang begitu. Dengan bermadzhab secara manhaji dan tidak hanya bermadzhab secara qauly, maka para ulama bisa merujuk kepada kitab-kitab fiqh dan sekaligus menggunakan manhaj atau metode ijtihad yang sudah dirumuskan oleh para imam madzhab. Dengan demikian hasil ijtihanya menjadi lebih komprehensif. Di satu sisi kita tidak meninggalkan tradisi kitab kuning yang berisi produk-produk hukum (kitab-kitab fiqh, red), tapi di sisi lain kita juga berijtihad dengan menggunakan ushul fiqh yang telah dirumuskan oleh para imam madzhab, sehingga berbagai perkembangan baru yang terjadi belakangan ini bisa dijawab dengan lebih baik. Kalau hanya mengandalkan kitab-kitan fiqh, rasanya sulit untuk menjawab masalah-masalah yang muncul sekarang ini. Karena banyak sekali masalah-masalah  sekarang ini yang dulu belum muncul.

Sebagai basis keilmuan Islam klasik, apakah pesantren dewasa ini masih cukup bisa diandalkan dari segi keilmuan klasik, termasuk ushul fiqh, mengingat pesantren sejak tahun 70-an sudah mengadopsi pendidikan formal?
Ini memang sangat dilematis. Kalau pesantren bersikukuh hanya mempelajari kitab kuning dan tidak menyelenggarakan pendidikan formal, maka masyarakat lama-lama akan meninggalkan pesantren. Karena sekarang ini ijazah menjadi satu-satunya pengakuan terhadap keahlian seseorang. Dan ijazah hanya bisa diperoleh melalui pendidikan formal. Maka pesantren tidak bisa dipersalahkan jika menyelenggarakan pendidikan formal, karena memang tuntutannya begitu. Dulu tidak ada madrasah ibtida’iyah, tsanawiyah, aliyah di pesantren, apalagi SD, SMP atau SMA. Tuntutan zaman menghendaki demikian,  akhirnya pesantren menyelenggarakan pendidikan formal juga. Dan saya kira ini wajar saja.

Tapi kemudian kitab kuning terabaikan dan pesantren lebih fokus ke pendidikan formal?
Memang sangat disayangkan kalau terjadi demikian. Karena tugas utama pesantren adalah memberikan pemahaman keagamaan yang mendalam, tafaqquh fid din. Tapi saya melihat tidak semua pesantren kemudian hanya fokus di pendidikan formal dan mengabaikan kitab kuning. Pesantren Sukorejo (Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, red) saya kira tetap tidak meninggalkan kitab kuning meskipun seluruh jenjang pendidikan formal diselenggarakan di pesantren ini.

Apa yang dilakukan Pesantren Sukorejo untuk mengatasi dilema antara pendidikan formal dan kitab kuning?

Jadi berbeda dengan sekolah lainnya, pendidikan formal di sini diselenggarakan pada waktu siang sampai sore. Sedangkan paginya semua santri diwajibkan mengaji kitab kuning yang diasuh oleh para ustad melalui madrasah diniyah. Ini mutlak. Jadi, pagi sampai siang ngaji kitab kuning, sedangkan siang sampai sore sekolah, ada yang di SMP, Tsanawiyah, Aliyah, SMA. Masuk madrasah adalah wajib, sedangkan masuk sekolah terserah santri.

Tapi porsi pengajian kitab kuning tetap lebih sedikit dibanding dulu waktu belum ada pendidikan formal?
Tentu saja. Tapi ini jalan keluar yang paling memungkinkan. Pesantren tidak mungkin menolak pendidikan formal, karena masyarakat memang menghendaki begitu. Karena itu, untuk mengimbanginya, santri harus ngaji kitab di madrasah diniyah. Dan di sini (di Pesantren Sukorejo, red) ketekunan di madrasah diniyah sangat mempengaruhi pendidikan formal. Dalam arti, jika santri jarang ngaji kitab misalnya, maka akan mempengaruhi kelulusan di sekolah. Santri yang  tidak rajin di madrasah nanti tidak bisa ikut ujian di sekolah. Jadi ada sinergi antara sekolah dan pengajian kitab di madrasah diniyah. Memang harus diakui, waktu untuk mempelajari kitab kuning tidak sebanyak dulu.

Pendidikan formal menyebabkan krisis keulamaan terutama dari segi keilmuan, terutama ushul fiqh?
Saya memahami keulamaan tidak hanya dari segi keilmuan. Kalau merujuk kepada ayat innama yakhsyallaha min ‘ibadihil ulama (sesungguhnya yang takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya hanyalah ulama), maka ada dua kriteria ulama. Yaitu keilmuan dan ketaqwaan. Seseorang disebut ulama karena berilmu dan sekaligus bertaqwa. Jika hanya salah satu yang dimiliki, maka dia bukan ulama. Nah krisis keulamaan bisa salah satu dari keduanya atau bisa juga kedua-duanya.

Sudah ada upaya untuk mengatasi krisis keulamaan, terutama dari pihak pesantren?
Krisis keulamaan, terutama jika sudah kedua-duanya mengalami krisis (keilmuan dan ketaqwaan, red), ini tidak mudah diatasi. Apalagi jika menyangkut ketaqwaan. Yang paling mudah adalah mengatasi dari segi keilmuan. Berdirinya Ma’had Aliy adalah salah satu upaya untuk mengatasi itu. Waktu itu para kyai resah dan prihatin dengan banyaknya ulama yang wafat. Kyai As’ad (pengasuh Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo waktu itu, red) kemudian berinisiatif untuk mencetak kader ulama yang mumpuni. Maka didirikanlah Ma’had Aly bersama para kyai dan ulama lain (Ma’had Aly Pesantren Sukorejo didirikan pada tahun 1990, red). Ma’had Aly di sini kemudian menerima mahasiswa tidak hanya dari pesantren Sukorejo, tetapi juga dari pesantren-pesantren lain. Karena sejak awal pendekatan Ma’had Aly adalah pendekatan potensi, bukan pendekatan latar belakang. Artinya siapa saja boleh masuk Ma’had Aly tidak peduli dia lulusan apa; asal dia lulus tes, maka dia masuk. Itulah perbedaan Ma’had Aly dengan perguruan tinggi lainnya seperti IAIN misalnya. Kalau IAIN memperbaiki sistem rekruitmennya, maka Ma’had Aly tidak diperlukan. Di Ma’had Aly mereka belajar kitab kuning secara intensif. Dan menurut saya upaya ini relatif berhasil. Setidaknya dilihat dari alumni-alumninya yang cukup berperan di wilayahnya masing-masing.

Itu lulusan pada masa-masa awal atau pada masa-masa sekarang?
Memang lulusan pertama relatif lebih baik. Tapi kalau di bidang ushul fiqh-nya sendiri justru tidak. Karena efektifitas pendidikan ushul di Sokorejo ini baru dimulai ketika Ma’had Aly didirikan. Oleh karena itu, semakin ke belakang justeru semakin matang. Sistemnya yang dulu gak cocok, kemudian diubah dan diperbaharui. Kalau tenaga pengajarnya memang masih lebih berbobot yang dulu. Kalau dulu ada Kyai Wahid Zaini, ada Kyai Hasan Abdul Wafi, ada Kyai Muchit Muzadi; ada Gus Nadzir, ada Gus Yusuf Muhammad. Dan banyak lagi. Sekarang sebagian besar mereka sudah wafat. Namun demikian, kelebihan Ma’had Aly sesungguhnya adalah pergumulan diantara mereka yang punya potensi. Bukan semata-mata tenaga pengajarnya. Kalau prosesnya mungkin tidak ada yang istimewa. Karena mereka tidak mencukupkan kuliah kepada ustadz, tapi juga musyawarah. Istilahnya di sini, ada ustadz, ada musyrif.Musyrif itu yang memimpin musyawarah. Pergumulan dalam musyawarah inilah yang sangat bermanfaat bagi mahasiswa Ma’had Aly dalam mengasah keilmuan mereka.

Krisis keulamaan juga mendapat perhatian dari pemerintah, khususnya Kementerian Agama. Jika pemerintah harus “intervensi”, maka dalam bentuk apa intervensi itu mesti dilakukan?

Kalau intervensi ke dalam, saya kira tidak perlu. Artinya pesantren-pesantren sudah memiliki “kurikulum” sendiri yang tidak perlu diintervensi oleh pemerintah. Justeru berbahaya jika intervensi  dalam masalah kurikulum. Yang perlu pemerintah lakukan adalah menyediakan sarana yang memadai bagi proses pendidikan di pesantren. Negara berkewajiban memenuhi sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk menjawab krisis keulamaan khususnya dari segi keilmuan. Selama ini pemerintah hanya membantu pesantren yang menyelenggarakan pendidikan formal. Pesantren salaf yang hanya mempelajari kitab kuning kurang diperhatikan, termasuk Ma’had Aly. [ ]

Related posts:

3 Responses to Ijtihad Tidak Boleh Berhenti

  1. saduddin

    mungkin ke khawatiran tersebut akan bisa sedikit diatasi bila Pendidikan yang berbasis pesantren di Negrikan….karna hal tersebut bisa mempermudah komunikasi antara pemerintah dan pesantren,

     
  2. saduddin

    Me Negrikan Madrasah Tsanawiyah berbasis pesantren akan sedikit membantu administrasi di pesantren dengan ketentuan kurlum yang dijalankan harus berbasis pesantren, jadi alur pendidikannya bisa searah,,

     
    • PDPontren-Master2014

      kendala besar justru kadang berasal dari pesantrennya sendiri… yang kadang malah nampak enggan berurusan dengan administrasi dan birokrasi

       

Add a Comment

Currently you have JavaScript disabled. In order to post comments, please make sure JavaScript and Cookies are enabled, and reload the page. Click here for instructions on how to enable JavaScript in your browser.